Jenderal Mulyono: Prajurit TNI yang Beraninya Keroyokan itu Pengecut

VIVA   –  Sudah hampir dua tahun Jenderal TNI (Purn. ) Mulyono meninggalkan jabatannya sebagai Kepala Staf TNI Legiun Darat (KASAD). Akan tetapi, pesan-pesan perwira tinggi yang dikenal rendah hati dan dekat dengan prajurit, akan senantiasa dikenang.

Ada kisah unik saat Mulyono memberikan pengarahan dalam kunjungan kerja di Markas Batalyon Infanteri (Yonif) 725/Waroagi, Kendari, Sulawei Tenggara, April 2017. Dalam pantauan VIVA Tentara pada akun Youtube Batalyon TV , Saat itu, Mulyono meminta kepada prajurit di Yonif 725/Waroagi untuk meningkatkan kemampuan bela dirinya.

Bagi Mulyono, seorang prajurit TNI wajib mengabuk ilmu bela diri. Selain untuk membela rakyat, ilmu bela muncul juga akan sangat bermanfaat buat menangkal setiap ancaman kepada diri sendiri.  

Tak segan, pria kelahiran Boyolali, 12 Januari 1961, membuktikan bahwa seorang prajurit TNI harus jago berkelahi dan tidak boleh kalah. Akan tetapi, Mulyono juga memperingatkan setiap prajurit TNI harus berkelahi dengan kstaria alias mulia lawan satu. Dengan tegas Mulyono mengatakan, prajurit TNI yang melangsungkan pengeroyokan adalah seorang pengecut.

“(Prajurit TNI) harus jago menyelami (berkelahi), tentara diajari gelut harus menang, enggak boleh kalah. Bukan keroyokan, gelut premannya satu dikeroyok 10 tentara, itu pengecut namanya. Kalau gelut ya sendiri-sendiri. Kamu harus punya kemampuan itu, biar kamu percaya diri, ” cakap Mulyono.

Mulyono berjanji, akan membiarkan para prajuritnya yang terlibat perkelahian. Dengan catatan, perkelahian itu untuk membela rakyat yang baik dan tidak karena aksi sok jagoan. Intimidasi Mulyono, bagi prajurit TNI dengan berbuat onar akan langsung diproses dan dimasukan ke penjara militer.

“Prajurit harus melaksanakan ilmu bela dirimu harus mengindahkan akal sehat. Anda boleh menanamkan aturan tapi lihat posisi. Di satu sisi, saya membiarkan kalian gelut tetapi di kalau kalian gelut enggak pake otak beta masukan penjara, ” ucap Mulyono.