Sapa Capres AS yang Diinginkan China, Iran, dan Rusia?

 

Reuters

Apakah Kremlin akan berusaha melindungi Donald Trump sebagai presiden? Apakah Beijing memberikan dukungan moral kepada Joe Biden?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam kalangan komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) menjelang pemilihan presiden November ini.

Penilaian seorang pejabat tinggi menyebutkan kekuatan-kekuatan ganjil akan menggunakan “langkah-langkah menebar buah baik tersembunyi maupun terbuka” guna mempengaruhi pemilih AS. Kekuatan langka yang dia sebut secara positif adalah Rusia, China dan Iran.

Tiga negara itu tidak bisa disamaratakan, karena taat pandangan intelijen AS, masing-masing memiliki tujuan dan kemampuan sendiri.

Penilaian tersebut sendiri menjadi sorotan. Seorang pembocor rahasia baru-baru ini diduga diminta untuk merendahkan ancaman dari Rusia karena “membuat presiden tampak buruk”.

 

 

Apa dengan dikatakan oleh intelijen? Seperti dengan mungkin sudah diketahui, Rusia mencuri panggung dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 dan sesudahnya.

Singkatnya, intelijen GANDAR meyakini Rusia berusaha mempengaruhi pemilih agar mendukung Donald Trump, menunjuk pada pertemuan antara timnya serta para pejabat Rusia, serangan siber terhadap tim kampanye Hillary Clinton dalam pilpres lalu dan Demokrat, serangan terhadap database pemilih, mengikuti upaya-upaya untuk membesar-besarkan materi bongak atau memihak di online.

Bulan lalu, panel Kongres yang dikuasai kubu Republik memperkuat pandangan bahwa Rusia menginginkan Trump menang, dengan menyimpulkan kampanyenya menjelma sasaran empuk bagi pengaruh langka tetapi tidak sampai menuduh adanya konspirasi kejahatan.

 

Reuters

Intelijen AS mengutarakan Rusia tidak pernah berhenti mencari jalan mencampuri politik Amerika Serikat.

Dalam Pilpres AS 2020, rival Trump adalah Joe Biden. Dalam ulasannya, yang ditujukan bagi publik Amerika, Kepala Pusat Keamanan dan Kontraintelijen Nasional (NCSC) William Evanina mengatakan Rusia “menggunakan berbagai langkah untuk secara khusus merendahkan mantan Wakil Presiden Biden”.

Dalam pandangan Direktur FBI, Christopher Wray, Rusia tidak pernah berhenti campur tangan. Dia menyebut upaya dalam pemilihan kongres tahun 2018 sebagai “gladi bersih untuk pertunjukan besar pada tahun 2020”.

Rusia dengan konsisten membantah melakukan campur lengah dalam pemilu di negara-negara lain. Awal tahun ini, seorang spesialis bicara Kremlin menyebut tuduhan kacau tangan “pengumuman paranoia” yang “tidak benar sama sekali”.

Terlepas dari pertanyaan apakah Rusia menginginkan Presiden Trump tetap menjabat periode kedua atau tidak, pandangan lain yang sering diutarakan para analis adalah Rusia punya tujuan lebih luas, yaitu untuk menggoyahkan saingan-saingan Trump dengan cara menyebarkan kebingungan.

Sebagai mencontoh, tahun ini dokumen Uni Eropa menyebutkan ada kampanye Rusia buat menyebarkan berita bohong tentang virus corona untuk mempersulit organisasi negeri2 Eropa tersebut mengomunikasikan responsnya. Rusia menyebut tuduhan itu tak bersandar.

Apa yang dikatakan kedua capres? Joe Biden baru-baru ini mengatakan akan ada “harga yang dibayar” jika Rusia tetap melakukan campur tangan. Dia menyebut Rusia sebagai “lawan” dari Amerika Serikat.

Presiden Trump seringkali meremehkan tuduhan campur lengah Rusia, yang membuatnya berseberangan dengan para ahli intelijennya sendiri.

Setelah KTT tahun 2018 dengan Vladimir Putin, dia ditanya apakah dirinya lebih mempercayai publik intelijen AS atau presiden Rusia tentang tuduhan campur tangan Rusia.

Trump mengatakan: “Presiden Putin mengatakan pelakunya bukan Rusia. Saya tak melihat alasan kok harus Rusia. ” Ia lalu membuat klarifikasi bahwa ia lengah berbicara.

Apa dengan dikatakan oleh intelijen? Sosok-sosok penting di pemerintahan Trump berpendapat kalau sebenarnya China, bukan Rusia, yang menjadi ancaman utama tahun tersebut.

“Saya sudah tahu data intelijen. Itulah yang beta simpulkan, ” kata Jaksa Gede William Barr. Politikus Demokrat Umat Schiff, yang mengetuai Komite Polisi DPR, menuduh Barr “sepenuhnya berbohong”.

Dalam penilaiannya, Evanina mengatakan intelijen AS meyakini “China lebih senang jika Presiden Trump – yang dianggap oleh Beijing sebagai sosok yang tak sanggup ditebak – tidak menang teristimewa dalam pemilihan”.

Menentang Juga

 

Reuters

Presiden China Xi Jinping. Pemerintah AS pada bawah Presiden Trump menganggap China sebagai ancaman terbesar dalam Pilpres AS.

“China memperluas pengaruhnya untuk membentuk lingkungan kebijakan di Amerika Serikat, menekan sosok-sosok di panggung politik dengan dipandang menentang kepentingan China, dan menyerang balik kritik terhadap China, ” katanya.

Penggunakan kata “pengaruh” patut dicatat. Walaupun China mempunyai cara canggih mempengaruhi opini, tidak jelas seberapa jauh China siap melangkah.

“China akan tetap menimbang risiko dan keuntungan dari tindakan bernafsu, ” jelas Kepala Pusat Keamanan dan Kontraintelijen Nasional (NCSC) William Evanina.

Tujuannya jadi lebih diarahkan untuk mempromosikan prinsip China kepada dunia.

Facebook baru-baru ini menutup jaringan akun yang berkaitan dengan China, sebagian besar kontennya mendukung negeri China, seperti kepentingan negara tersebut di Laut China Selatan dengan disengketakan.

China menengkari tegas tudingan campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara-negara asing, dengan mengatakan “tak tertarik atau tak bersedia melakukannya”.

Apa yang dikatakan kedua capres? Bulan ini, Presiden Trump secara rasa setuju mencuit ulang tulisan di situs Breitbart yang miring ke Trump. Judul artikel tersebut adalah “China tampaknya `condong ke Joe Biden` dalam pemilihan presiden”.

“Tentu mereka menginginkan Biden. Saya sudah mengambil miliaran dollar dari China dan memberikannya kepada petani kita dan Bagian Keuangan. China akan menguasai AS jika Biden & Hunter mendalam! ” Tulis Trump, merujuk pada putra Joe Biden, Hunter.

Hubungan antara China & Amerika Serikat berada di bercak rendah, yang diwarnai berbagai perkara mulai dari virus corona maka penerapan undang-undang keamanan kontroversial di Hong Kong oleh China.

Joe Biden berusaha menangkis tuduhan-tuduhan dari Presiden Trump kalau ia bersikap lunak terhadap China, berjanji untuk “bersikap tegas” terhadap hak asasi manusia dan masalah-masalah lain.

Namun Demokrat menganggap, setidaknya menyangkut pemilihan, Rusia lah yang paling agresif.

Apa yang dikatakan oleh intelijen? Dalam pernyataannya, Evanina mengutarakan Teheran menentang periode kedua Pemimpin Trump, yang diyakini akan membina “tekanan terus menerus AS kepada Iran dalam upaya menggerakkan perubahan rezim”.

Dikatakan, jalan Iran akan dipusatkan pada “pengaruh online, misalnya menyebarkan informasi silap di media sosial dan menyirkulasikan konten anti-AS”.

Tuduhan intelijen disokong Microsoft. Perusahaan teknologi informasi raksasa itu mengatakan para peretas yang punya hubungan dengan Rusia, China, dan Iran mencari jalan memata-matai sosok-sosok kunci dalam pemilu AS.

Soal Iran, perusahaan tersebut mengatakan sebuah grup Iran yang dikenal dengan nama Phosphorus gagal menembus akun-akun hak para pejabat Gedung Putih serta tim kampanye Trump antara Mei dan Juni tahun ini.

 

Reuters

Iran, di bawah pemerintahan Presiden Hassan Rouhani, menepis tuduhan bahwa itu menginginkan capres tertentu menang dalam Pilpres AS.

Juru bicara Kementerian Luar Kampung Iran menyebut laporan Microsoft “absurd”. “Iran tidak merisaukan siapa dengan akan menduduki kursi kepresidenan pada Gedung Putih, ” kata jubir Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh.

Sebuah laporan mengenai jalan Iran dalam menebar pengaruh pangkal tahun ini dari the Atlantic Council menyebut Iran fokus menggolkan agenda nasional, seperti meraih supremasi di kawasan Timur Tengah.

“Hampir semua konten yang disebarkan Iran secara digital berkaitan langsung dengan pandangannya terhadap dunia atau tujuan kebijakan luar negeri yang spesifik. Konsekuensinya, mudah untuk mengidentifikasi operasi-operasi Iran ketimbang aktor-aktor lain seperti Rusia yang kontennya kemungkinan besar agnostik secara kebijakan. ”

Apa yang dikatakan kedua capres? Iran tidak tampil terpandang dalam pemilu GANDAR, seperti Rusia atau China, jalan dalam konteks kemungkinan menebar efek atau kebijakan.

Pemimpin Trump punya kebijakan agresif terhadap Iran, menarik mundur dari kata sepakat nuklir, serta memerintahkan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani.

Joe Biden mengatakan kebijakan ini malang. Dalam tulisan editorial untuk CNN, dia mengatakan ada “cara yang cerdas untuk tegas pada Iran”. Dia berikrar untuk menekan “aktivitas-aktivitas yang mendestabilisasi” sekaligus menawarkan “jalur menuju diplomasi”.