Survei Ungkap Fakta-fakta Menarik Islamofobia di Australia

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Sebuah penelitian di Australia menunjukkan bahwa hidup lebih dekat dengan Muslim mungkin bisa mengurangi Islamofobia. Dalam penelitian tentang sikap non-Muslim yang tinggal dekat dengan Muslim di Sydney dan Melbourne, terungkap bahwa mereka sedikit kemungkinan tidak mempercayai Muslim dan lebih cenderung toleran terhadap perbedaan.  

Penelitan yang dilakukan RMIT University menemukan, bahwa non-Muslim yang berbagi ruang lingkungan dengan Muslim cenderung kurang mengungkapkan pandangan Islamofobia. 

Dilansir di TRT World, Selasa (1/9), penelitian ini adalah bagian dari tahap ketiga dari proyek yang lebih besar yang berfokus pada “Islamofobia dan Pengalaman Lingkungan Sekitarnya” yang didanai oleh Departemen Layanan Sosial (DSS) melalui program Hibah Penelitian Nasional the Strong and Resilient Communities (SARC).

Dalam studi tersebut, Islamofobia didefinisikan sebagai “sikap atau emosi negatif yang tak pandang bulu yang diarahkan pada Islam atau Muslim.” Sedangkan pengalaman lingkungan sekitar adalah gabungan dari elemen-elemen yang termasuk dalam konsep modal sosial, partisipasi lokal dan kepuasan dengan daerah pinggiran kota seseorang. 

Di antara pertanyaan penelitian utama dari studi ini adalah untuk meneliti hubungan antara pengalaman lingkungan sekitar dan Islamofobia. Penemuan ini diambil dari data survei terhadap 1.020 orang. 

Setengahnya ditargetkan di sepuluh pinggiran kota dengan konsentrasi Muslim tertinggi di Sydney dan Melbourne, dan setengah lainnya di wilayah metropolitan yang lebih besar di kedua kota tersebut.

Responden diberikan serangkaian pernyataan yang mencakup, “jumlah Muslim di Australia terlalu tinggi,” “Saya tidak suka melihat wanita Muslim dengan rambut tertutup”, “Saya akan menentang pembangunan masjid baru di daerah saya” dan “Saya khawatir tentang Muslim yang membentuk kantong wilayah di Sydney dan Melbourne”.

Mereka diminta untuk setuju atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut pada skala lima poin, yang menghasilkan “skor Islamofobia” dari satu (tanpa prasangka) hingga lima (prasangka tinggi).

Analisis data survei itu mengungkapkan sejumlah temuan menarik. Di antara non-Muslim di Sydney dan Melbourne, Islamofobia secara signifikan lebih rendah di pinggiran kota dengan proporsi tinggi Muslim Australia daripada populasi umum di kedua kota tersebut, dengan nilai 2,31 dibandingkan dengan 2,80.

Kota pinggiran dengan proporsi tinggi Muslim di Australia misalnya Lakemba di New South Wales, di mana 59 persennya penduduk Muslim, atau Dandenong, Victoria, di mana Muslim berjumlah 30 persen.

Responden yang tidak beragama atau agama lain (non-Islam) menunjukkan lebih sedikit Islamofobia daripada mereka yang diidentifikasi sebagai Kristen. Responden non-agama mengantongi skor 2,48 versus 2,77 dari responden Kristen di kedua metro dan wilayah target.

Sementara itu, usia dan pendidikan merupakan indikator penting. Mereka yang berusia 18 hingga 34 memiliki skor Islamofobia yang lebih rendah (2,32) dibandingkan mereka yang berusia di atas 65 (2,80). Sedangkan mereka yang berpendidikan universitas memperoleh skor 2,47 dibandingkan dengan 2,90 untuk mereka yang hanya sepuluh tahun sekolah.

Lihat Juga

Faktor sosial ekonomi juga berarti. Data menunjukkan, bahwa pekerjaan yang terkait dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung dikaitkan dengan Islamofobia yang lebih rendah, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik antara manajer (1,97) dan mereka yang berada di posisi penjualan, tenaga kerja atau operator mesin (2,57).

Kepuasan dengan pendapatan adalah prediktor Islamofobia yang lebih kuat daripada tingkat pendapatan itu sendiri. Mereka yang menyatakan bahwa mereka “nyaman” (2,49) dengan pendapatan mereka menunjukkan skor prasangka yang lebih rendah daripada mereka yang menyatakan bahwa mereka “kesulitan” (2,86).

Sementara itu, responden dari Sydney (2,18) ditemukan kurang Islamofobik dibandingkan rekan Melbourne mereka (2,32). Hal itu kemungkinan karena fakta bahwa Muslim lebih terkonsentrasi di pinggiran kota Sydney daripada di pinggiran Melbourne, di mana mereka jauh lebih tersebar. 

Secara keseluruhan, temuan survei memperkuat bukti dari apa yang dikenal sebagai “teori kontak”, yang mengusulkan bahwa biasanya, tetapi tidak selalu, kontak antara orang-orang dari latar belakang yang berbeda mengurangi prasangka antar kelompok.

Hal ini berbeda dengan “teori ancaman”, yang menyatakan bahwa pertemuan antara individu dari kelompok yang berbeda dapat, dalam kasus tertentu, meningkatkan perasaan cemas dan persepsi ancaman.

Studi tersebut menunjukkan bahwa bukti sebelumnya tentang teori kontak dan ancaman di lingkungan di mana minoritas Muslim berbagi ruang dengan non-Muslim telah bercampur, mengutip sebuah penelitian di Inggris baru-baru ini yang menegaskan hipotesis teori kontak, tetapi studi Belanda serupa yang mengungkapkan sebaliknya.

Muslim membentuk 2,6 persen dari total populasi Australia, angka itu lebih dari 600 ribu menurut sensus terakhir pada 2016. Sekitar tiga perempat Muslim tinggal di Sydney dan Melbourne.

Seperti yang ditunjukkan penelitian, representasi Muslim dalam liputan media Australia seringkali negatif dan berkontribusi pada wacana Islamofobia. Ada contoh pejabat terpilih yang membangkitkan ketakutan dari Muslim untuk menjajakan retorika xenofobia (ketakutan atau ketidaksukaan terhadap orang-orang dari negara lain atau yang dianggap asing). Laporan Islamofobia di Australia pada 2019 menyoroti bahwa Muslim terus menjadi sasaran permusuhan dan kekerasan. 

Sumber: https://www.trtworld.com/magazine/living-closer-to-muslims-might-be-a-cure-for-islamophobia-39349