Tanpa Coba-coba Langgar Protokol COVID-19 di Aceh, Ini Sanksinya

VIVA   –  Negeri Aceh telah membuat rancangan sistem gubernur (Pergub) tentang peningkatan Penanganan COVID-19 di Aceh, yang isinya antara lain mengatur tentang hukuman bagi mereka yang abai buat menerapkan protokol kesehatan.  

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani mengatakan, Pergub itu juga mengatur tentang sanksi tata laksana dan sanksi sosial. Sanksi administrasi mulai berbentuk teguran lisan, tertulis, hingga pencabutan izin usaha. Tengah bentuk sanksi sosial, seperti diwajibkan membaca Alquran.  

“Berat-ringannya sanksi sangat tergantung di dalam tingkat pelanggaran protokol kesehatan dengan dilakukan, ” ujar Saifullah di dalam keterangannya, Sabtu, 8 Agustus 2020.

Rencana Pergub itu telah dipersiapkan serta akan disosialisasikan pada Selasa, 11 Agustus 2020. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, kata dia pemberlakuan penyekatan sosial tertentu, seperti pemberlakuan tanda malam, sebagaimana  pernah diterapkan sebelumnya.

Namun, sebelum keputusan pembatasan sosial itu diambil, akan dikonsultasikan dan berkoordinasi dengan komite penanganan COVID-19 pusat.  

Pergub Aceh yang disertai dengan sanksi itu, kata Saifullah disusun berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 6 Tahun 2020 mengenai Peningkatan Disiplin dan Penegakan Kaidah Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.  

Presiden mengintruksikan gubernur, bupati, dan wali kota untuk menyusun dan menetapkan peraturan yang memuat kewajiban mematuhi protokol kesehatan tubuh, perlindungan kesehatan masyarakat, dan kegiatan mematuhi protokol kesehatan tersebut dipakai kepada perorangan, pelaku usaha, pengelola penyelenggara, atau penanggung jawab wadah dan fasilitas umum.

“Rencana menjatuhkan sanksi administrasi ataupun sanksi sosial ini mungkin tak disukai semua orang, namun kita harus melindungi masyarakat dari virus corona, yang ditularkan oleh itu yang abai pada protokol kesehatan tubuh, ” ujarnya.

Maka saat ini secara kumulatif kasus positif corona di Aceh meningkat tajam, dan sudah berjumlah 547 orang. Dengan rincian, 148 sembuh, 378 dirawat di rumah melempem rujukan dan 21 meninggal dunia.