DPR: Indonesia Belum Siap Berlakukan New Normal

VIVA   –  Anggota DPR MENODAI Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad, mengucapkan bahwa saat ini  Indonesia belum siap untuk memasuki kehidupan lazim yang baru atau new umum. Sebab masih belum terpenuhinya sejumlah syarat untuk memasuki hidup biasa yang baru, salah satunya yakni memadainya pelayanan kesehatan.

“Kemudian syarat new normal patuh pakar, kita tahu menurut pakar masih sangat jauh. Yang kita harapkan terakhir pelayanan kesehatan dengan tidak memadai, sehingga agak sulit kita kalau sekarang mau memaksakan new normal secara nasional untuk berlaku. Jadi kalau hanya untuk mementingkan bisnis, ini yang kita mau kembangkan maka tentu akan sulit, ” kata Kamrussamad, Jumat 29 Mei 2020.

Kamrussamad memaparkan, menurut beberapa lihai, Indonesia masih berada di batas merah atau masih belum mencapai puncak penyebaran virus COVID-19. Sedangkan, menurut ahli, new normal tersebut bisa diberlakukan ketika Indonesia sudah melewati fase puncak penularan COVID-19  dan tren-nya terus menurun.

“Sebelum ada COVID-19 kita berada di kesibukan normal lalu kemudian ketika tersedia COVID-19 kita menyebutnya ada coreng ke atas. Indonesia sekarang posisinya ada di sini titik abang di puncak dan Indonesia masih ada di titik ini & belum sampai puncak Bagaimana kita bisa normal. New Normal itu ketika sudah landai tetapi tak bisa sepenuhnya kita hilangkan sebab itu perlu ada penyesuaian kesibukan baru, ” ujar Kamrussamad.

Kamrussamad mengatakan, jangan sampai kurva penularan virus COVID-19 tersebut bergerak turun naik, atau serupa huruf M atau W. Kalau terjadi seperti itu, dikhawatirkan keyakinan dunia Internasional akan menurun terhadap Indonesia, karena dianggap tidak berpunya menangani COVID-19.

Sampai saat ini, menurut Kamrussamad, tak ada yang bisa menjamin kapan puncak COVID-19 itu dapat terlewati. Maka dari itu, Indonesia dinilai belum siap menerapkan new lazim secara nasional, namun jika dilakukan secara zonasi, masih bisa diberlakukan.

“Nah kita aja sekarang belum hadir puncak. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita sudah memasuki Pucuk (Penularan corona)? kan tidak tersedia yang bisa menjamin. Ini dengan menjadi problem kita. Jadi aku tidak tahu basis-basis pengambilan kebijakan menteri perekonomian dan seluruh rangkaian kabinet terhadap rencana pemberlakuan new normal. Mudah-mudahan ini masih menjelma diskursus dan mendapatkan masukan dari banyak pakar dan ahli jadi bisa menyempurnakan kebijakan, ” ucap Kamrussamad.

Kamrussamad mengisbatkan new normal baru dapat diberlakukan apabila kurva penularan COVID-19  telah landai. “Kapan saatnya new lazim diberlakukan? Ya ketika kita sudah melewati Puncak dan betul-betul continue turun dan posisi sudah tidak ada lagi pasien baru ataupun transmisi baru sehingga betul-betul status pemulihan itulah yang disebut new normal, ” kata dia.

Baca juga:   Jejak Mengerikan Ruslan Buton, Pecatan TNI yang Minta Jokowi Mundur